PAK MAX,

( Memoar sahabatku : Max Arifin )

“Om, pak meg tdah meninggal” sebuah sms yang masuk ke HP-ku, dari nomor 08xxxxxxxx. Informasi itu itu dikirim oleh salah satu keponakanku di sambisasri (sebuah dusun di Kab. Sidoarjo, dimana keluarga besar kami tinggal, dan didusun itu pula aku pertama kali kenal pak max. beliau pernah beberapa tahun tinggal didusun ini ), pada pukul 12:21:30. Saat itu aku sedang ada rapat di Kantor dinas, Kamis, 1 Maret 2007.

Aku sempat berpikir, terhenyak. Pak Meg yang mana ? akhirnya aku ingat, bahwa semua keluargaku kalau memanggil pak Max adalah sengan sebutan pak Meg. Aku tidak yakin, dan terbayang wajah pak Max , wajah dengan ciri khas janggut panjang kelabu, rambut panjang ( agak gondrong) kebelakang dengan warna dominasi kelabu-putih. Akhirnya aku kontak mas di sambisari via sms , untuk konfirmasi berita tersebut. Rupanya ia belum tahu, dan janji akan cari informasi.

Aku teringat lagi bahwa dua hari yang lalu aku membaca sebuah buku, “ nyanyian laut ” sebuah novel karya Yuko Mishima, yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh sahabatku Max Arifin. Yang dihadiahkan kepadaku saat aku terakhir berkunjung ke rumahnya di Japan Raya, Mojokerto. Aku selalu ingat, hari itu, max memberiku sebuah buku , sebuah nvel terjemahannya sendiri. Sebelum diberikanya kepadaku, pak max menulis pada novel itu , “ Anda datang dengan salam persahabatan seperti dulu-dulu juga – Salam – 22/10- 2005, – Max Arifin “.

Kamis, 1 maret 2007, Pukul 20.40 aku buka novel itu, aku temukan kartu nama Pak Max, aku telpon rumahnya, saat itu diterima istri mas Imam ( Mas Imam salah satu putra pak Max ) dan memberitahukan bahwa pak Max telah meninggal. Innalillahi Wainna Ilaihi Roojiuun. Pak Max kau telah pulang, semoga amal dan ibadahmu diterima, diberikan kelapangan dan maghfirah oleh Allah S.W.T. Amin.

Saat di telpon, aku minta bicara dengan bu Max, namun beliau belum bisa diajak bicara karena masih sock, akhirnya aku bicara dengan mas Imam. Aku teringat ucapan mas Imam, “ mas jangan putus silaturahmi kita ya, “. Tidak mas, aku tidak akan putus silaturahmi, aku tetap akan dan akan selalu bersilaturahmi.

Ingatan akan kamu , pak Max, selalu membekas, bekas yang yang sangat berkesan. Dalam setiap perjumpaan, aku selalu mendapat pelajaran yang sangat berharga, pelajaran akan konsep hidup, idealisme.

Ada beberapa kalimat yang sering kamu ucapkan, “ ini plat hitam asli “, artinya betul-betul milik sendiri, sambil menunjuk vespanya. Aku banyak mendapat pengalaman saat bersama-sama dengan mu dulu. Aku lebih mengenal tentang dunia teater darimu, aku juga banyak mendapat pelajaran tentang jurnalisme, seni bahkan politik juga darimu.

Kamu memang banyak memberikan pelajaran pak Max, pelajara tentang hidup dan idealisme.

Aku mulai jarang bertemu denganmu saat aku harus berugas di Kalimantan tengah, mulai akhir tahun 1994. namun setiap aku pulang kampung, aku pasti menjumpaimu. Berdiskusi, saling cerita pengalaman, sambil minum teh dan roti panggang buatan Ibu Max. Perjumpaan denganmu makin jarang, seiring jauhnya tempat aku bertugas. Memang dari Kalimantan, aku pindah tugas ke Sibolga, sumatera Utara. Jauh memang, karena kalau naik kapal laut memerlukan waktu 3 hari 3 malam. Naik mobil 4 hari 4 malam. Dan naik pesawat , masih memerluka waktu kebandara di medan selama 9 jam.

Pertemuan terakhir dengan mu , saat Iedul Fitri 2005, aku datang dengan keluarga, istri dan dua anakku. Aku ingat waktu itu itu kamu dan ibu baru sembuh dari sakit, dan bahkan sebelumnya sempat diopname. Saat itu kamu bilang , bahkan sampai dua kali “ kamu sehat rif, saya lihat dari wajahmu kamu betul-betul sehat”, alhamdulillah max.

Liburan Idul Fitri tahun 2006 aku pulang ke Jawa, namun aku tidak sempat datang ke tempatmu pak Max. Rencanaku tahun 2007 aku akan pulang dan mampir ketempatmu, aku ada rencana untuk bertemu dan berdiskusi dengamu lagi. Namun pak Max, kamu telah pergi, kamu telah pulang, kamu telah kembali ke Dzat yang Maha Kekal. Selamat Jalan Pak Max, Namamu tetap aku ingat, Pribadimu yang tegar , aku masih ingat. Selamat Jalan Sahabatku.

Pandan, Tapanuli Tengah

Jum’at, 2 Maret 2007